Close

Menerapkan BK di Era Pandemi

Judul: Bimbingan dan Konseling Remaja

Penulis: Prof. Dr. H. Rio Syamsu Yusuf L.N., M.Pd., Dr. Nani M. Sugandhi, M.Pd., Dra. Aas Saomah, M.Si.

Penerbit: PT. Remaja Rosda Karya

Cetakan: Oktober 2021 (I)

Halaman: 315

ISBN: 978-602-446-593-3

Harga: Rp100.000

Pada masa pandemi, malah makin banyak kita temukan peristiwa yang mengerutkan kening, terutama dari prilaku ganjil dari generasi muda. Muncullah istilah peristiwa terkait kesehatan mental.

Sekarang ini, aneka kasus terkait kesehatan mental, terutama yang menimpa remaja dan pemuda, makin mudah ditemukan sekarang. Ambil contoh seorang siswa yang berniat bunuh diri karena tak kuat dirisak di media sosial.

Juga, seorang pesinetron yang bahkan harus vakum dua tahun karena terganggu kesehatan mentalnya, baru-baru ini. Saat sedang mekar dan produktifnya berkarya, justru harus berdiam diri di rumah dulu hanya karena ketidakmampuan mengelola pengaruh eksternal, hingga tersiksa berulang melakukan sebuah aktivitas.

Kalangan remaja di sini dimaksudkan mereka yang berusia 10–24 tahun, yang artinya umumnya sedang berada di bangku Sekolah Menengah Pertama (SMP), serta Sekolah Menengah Atas (SMA) atau Sekolah Menengah Kejuruan (SMK)). Anak yang berada pada umur tersebut sangat rentan jiwanya, labil pada aneka pengaruh lingkungan sekitarnya. Hal tersebut perlu menjadi perhatian masyarakat, terutama para akademisi yang memiliki tugas membimbing, mengawasi, dan memberikan ilmu kepada para remaja serta sekaligus para orang tua di rumah.

Kepala Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) Surya Chandra Surapaty mengatakan, jumlah remaja akan terus terkerek naik seiring perbaikan kualitas hidup masyarakat Indonesia. Survei BKKBN tahun 2016 dan 2021 lalu, secara valid menujukkan kenaikan tersebut. Maka, melihat jumlah penduduk remaja yang bertambah pesat, dan fakta semakin banyak generasi tunas bangsa calon penerus negeri ini, membuat perlunya perhatian esktra dari semua pihak. Seperti ditulis di prolog, saat ini banyak fenomena kesehatan mental dari remaja sangat mengkhawatirkan. Mulai dari kecanduan narkoba, bunuh diri, kecemasan, bipolar, dan hal lainnya yang bersangkutan mental dan psikologi mereka.

Bagaimanapun, perkembangan remaja tidak lepas dari pengaruh lingkungan, baik fisik, psikis, maupun sosial. Iklim lingkungan kehidupan yang kurang sehat sangat memengaruhi perkembangan pola perilaku atau gaya hidup usia remaja yang cenderung mudah menyimpang dari kaidah-kaidah moral. Pada titik inilah, sekalipun konsep ini sudah lama eksis di SMP dan SMA/SMK, tapi makin hari malah makin aktual. Yaitu harus makin berdampaknya bimbingan dan konseling (BK) pada setiap jenjang pendidikan menengah, atas, dan tinggi di Indonesia.

Menyimak berbagai situasi sekarang, terutama pandemi berkepanjangan, penulis buku menekankan tujuan BK adalah untuk membantu perubahan perilaku, meningkatkan keterampilan mengatasi masalah, juga menangani potensi dan pengendalian diri lebih baik. Ditulis para akademisi dari Prodi Psikologi UPI, buku kolaborasi ini ditujukan untuk membantu guru BK atau konselor sekaligus orang tua dalam memfasilitasi perkembangan anak dan atau siswa. Selain itu, buku ini juga ditujukan menjadi panduan bagi para dosen yang mengajar matakuliah BK Remaja dan Mahasiswa dari Prodi Bimbingan dan Konseling. Karenanya, hampir seluruh ilmu mengenai dunia BK di sajikan secara lengkap dalam buku ini. Sebagai satu keunggulan buku, penyampaian informasi yang disampaikan penulis disajikan rapih, lengkap, dan mudah dimengerti disertai berbagai macam tabel dan gambar guna memudahkan pembaca dalam memahaminya. Selain itu, penulis juga menyajikan kamus kecil di beberapa halaman terakhir sehingga pembaca bisa lebih mafhum kata-kata yang dirasa asing.

Akhir kata, kesehatan mental serta sikap perilaku remaja di Indonesia sangat penting diperhatikan. Buku ini selain menjadi pemandu gerak guru dan dosen, juga harus menjadi pijakan bagi kita semua, terutama orangtua, agar mampu mengkontrol dan membimbing perilaku remaja Indonesia tanpa membuat mereka merasa dikendalikan. Mudah menuliskan ini, namun pastinya, siapapun pasti merasakan tantangan amat berat dalam mewujudkannya. (Dr. Muhammad Sufyan Abdurrahman, Dosen Digital PR Telkom University)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

© 2022 muhammadsufyan's blog | WordPress Theme: Annina Free by CrestaProject.