Close

Jangan Kemakan Hoaks Kesehatan!

Agar Informasi Kesehatan Tak Menyesatkan
Judul: The Miracle of Medicine
Penulis: dr. Dito Anurogo, M.Sc & DR. dr. H. Muchlis Achsan, SpPD.
Penerbit: PT Remaja Rosdakarya
Cetakan: Februari 2021
Halaman: 328
ISBN: 978-602-446-5223
Harga: Rp105.000
Masalah kesehatan dalam dua tahun terakhir menjadi salah satu isu sentral di masyarakat. Jadi, jangan heran, ada banyak institusi kena buntung atau sulit bertahan menghadapinya saat ini. Namun tidak dengan jasa dan produk kesehatan malah menuai banyak untung dalam pandemi yang terjadi hampir dua tahun ini.
Tengok saja data firma riset Nielsen soal kenaikan pembaca media cetak di kuartal empat 2020 sebanyak 2,6 juta, alias naik dari kuartal empat 2019 sebesar 2,1 juta. Hal ini simultan kenaikan nilai belanja iklan 2020 Rp229 triliun atau naik 26% dibandingkan pendapatan 2019 Rp182 triliun.
Tahukah Anda, sidang pembaca, apa pelecut kedua kenaikan tersebut? Ya betul tebakan Anda; Pandemi membuat waktu dan atensi masyarakat mengakses informasi –termasuk dari legacy media yang sebelumnya cukup ditinggalkan– jadi meningkat, khususnya informasi terkait kesehatan.
Semua menjadi khawatir terpapar, lalu mencari info cara mencegahnya pada lintas medium. Adik-kakak bingung orangtuanya yang sepuh bergejala, lalu sama-sama mempelajari informasi terkait. Termasuk … ramai-ramai membeli jahe merah, kelapa muda, bawang putih, dan labu kuning karena viral infonya sebagai pencegah dan pengobat virus Corona.
Masalahnya kemudian, pada era berkelimpahan info dengan kendali pada pembaca ini, khalayak tak hanya disajikan informasi kesehatan valid bertanggungjawab dari editor handal di media massa dan atau penerbit buku. Di saat bersamaan, muncul banjir hoaks dari akun siluman yang senangnya menciptakan sensasi dan friksi.
Maka itu, buku satu ini berusaha menangkal aneka kesimpangsiuran informasi kesehatan yang kadung berkembang bahkan menjadi norma sosial masyarakat Indonesia. Asyiknya, konten buku disajikan tak sebatas terkait isu kontemporer terkait penyakit pernafasan.
Tapi juga informasi terkait organ tubuh lainnya. Bahkan, tak sekedar organ tubuh dan penyakitnya, namun juga mencakup bagaimana sikap mental yang baik guna menghindar hingga mensikapi sekira penyakit ternyata sudah mendera.
Misalnya terkait dengan pertanyaan umum bahwa kalau badan kita sehat bugar, apa perlunya medical check up? Ternyata apa yang dirasakan dan dilihat baik saja, secara medis bukan jaminan karena kadang kita dikelabui oleh organ yang memang di dalam.
Konon, serasa masuk angin hingga ada gejala semacam rematik tapi di dada, ternyata itu adalah gejala jantung koroner. Mudah lapar-haus-kencing, ternyata itulah ciri diabetes mellitus. Penderita hipertensi merasa tak banyak merasakan gejala umum (sakit kepala, pegal seluruh badan, dan mudah lelah) namun saat akan berobat demam, eh tekanan darah tinggi saat ditensi perawat.
Stroke, penyakit yang kian mudah kita temukan, juga serasa jauh dari badan karena sering makan buah dan serat. Akan tetapi, kerap kita lupa imbas stress kehidupan makin menggunung hingga merokok dan banyak makan jadi eskapisme, dan akhirnya stroke pun hinggap.
Secara spesifik, sekelumit permasalahan organ ini dibahas detil yakni terkait batu empedu (Bab 3, hal 43-55), asam urat (Bab 4, hal 55-65), penyakit tropis (Bab 5, hal 65-97), HIV-AIDS (Bab 6, hal 97-127), hipertensi (Bab 7, hal 127-141), diabetes mellitus (Bab 8, hal 141-157), penyakit pernafasan (Bab 9, hal 157-189), penyakit lambung (Bagian II/Bab 11, hal 189-209), penyakit batu ginjal (Bab 12, hal 229-257), dan anemia (Bab 13, hal 257-263).
Penulis buku yang selain kompoten bicara banyak kesehatan terutama penyakit dalam, juga popular di media sosial dan media massa, khususnya dr. Dito, sehingga tulisan yang disajikan beneran ilmiah popular.
So, buku ini mudah dicerna oleh siapapun tanpa banyak istilah khas kedokteran yang kerap membuat alis berkerut, apalagi bahasan juga dibuat ringkas-ringkas (2-3 halaman) tanpa mengurangi bobotnya.
Selain itu, ini yang patut diapresiasi, pendekatan buku ini tak sebatas preventif yakni mencegah sejak dini. Tapi juga beberapa tips di dalamnya disajikan agar penderita, terutama usia 40 ke atas, bisa hidup nyaman berdampingan penyakit. (Dr. Muhammad Sufyan Abdurrahman, Dosen Prodi Digital Public Relations FKB Telkom University)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

© 2022 muhammadsufyan's blog | WordPress Theme: Annina Free by CrestaProject.